Fenomena tentang perilaku
seksual siswa sekolah dasar bukanlah fiktif belaka. Sadarilah bahwa itu
kenyataan pahit atau bisa kita menyebutnya sebagaimana bencana besar bagi
generasi penerus yang mau tidak mau sedang kita hadapi saat ini.
Untuk lebih meyakinkan
kita tentang perlunya pendidikan seksualitas bagi anak, marilah sama-sama kita
coba mencerna beberapa hal yang menjadi pertimbangan
Pertama ,fitrah nya
pada tahapan ini anak-anak mempunyai rasa ingin tahu yang amat tinggi terhadap
hal-hal yang baru dan menarik perhatian mereka apalagi produk yang berbau seks
saat ini di kemas semenarik mungkin dan di klaim sebagai suatu hasil karya seni
bernilai tinggi dan bagian dari kemajuan zaman. Perasaan ingin tahu yang terus
di jejali dengan informasi menarik namun sesat membuat mereka tergoda untuk
mencoba segala hal yang berkaitan dengan seks.
Kedua, Anak-anak akan
mengalami masa pubertas, dimana pada masa itu akan mengalami perubahan fisik dan jiwa yang sangat cepat dan maasih
labil. Sayang nya sebagian besar anak-anak tidak mengetahui secara pasti dan
jelas apa yang akan mereka alami tersebut. Akibatnya ketika di tanyakan apa itu puber? Mereka
menjawab nya sebagai masa-masa gaul, udah boleh pacaran. Meski ada juga yang
menjawab nya sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa remaja.Tapi
masih bisa di hitung dengan jari.
Ketiga, Faktor
perbaikan gizi atau lebih tepat nya untuk saat ini gizi yang timpang untuk
sebagian anak negri menjadikan mereka secara fisik cepat tumbuh dan matang
sebagai sosok manusia. Sayang nya pertumbuhan yang sangat pesat ini tidak di
barengi dengan kematangan mental nya karena terlalu di manjakan dengan hal-hal
yang instant. Akibatnya sang anak tumbuh sebagai anak yang “memble” yaitu kuat
secara fisik tetapi lemah mental nya.
Keempat, Para pencari
keuntungan dengan sangat jeli dan bebas
nya menjadikan keindahan seks yang sacral dan sangat pribadi sebagai sebuah
tontonan yang menarik.
Kelima, kampanye
pemerintah untuk menanggulangi bahaya sexs adalah save sex with condom. Bahkan saat ini lagi gencar-gencarnya iklan
kondom semacam sutra. Hal tersebut tentu saja membuka peluang bagi anak dan
remaja untuk mencoba melakukan hubungan seks. Mereka bisa saja berpikir, asal
menggunakan kondom seks aman dan boleh di lakukan.
Keenam, Di tengah
informasi menyesatkan yang membludak tentang seks usaha dan control orang tua
sangat minim. Kalau pun si anak menanyakan sesuatu yang berkenaan tentang sek,
jawaban yang di terima tidak lebih dari ekspresi kaget dan marah. Akibat nya
anak menjadi takut, tidak lagi terbuka dengan orang tua dan mulailah mencari
informasi dari lingkungan sekitarnya.
Ketujuh, Seksualitas
mau tidak mau, suka tidak suka adalah bagianyang tak terpisahkan dari kehidupan
kita. Rasanya akan lebih bijak menyikapinya jika anak tahu hakekat seksualitas
yang seutuh nya. Mereka harus tahu mana yang benar dan mana yang salah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar